Identitas Saya
- Eustachius-Atambua
- Atambua, Timor, Nusa Tenggara Timur, Indonesia
- Hidup hanya bisa disyukuri. Banyak hal di luar jangkauan pikir saya, bukan karena Tuhan tidak percaya kekuatanku melainkan karena Tuhan mengasihi ku secara pasti. Keempat saudara/i ku telah kembali secepat itu, membuat orang menduga kematianku akan secepat itu pula. Tetapi lain dugaan manusia, Allah punya rencana tersendiri bagiku hingga saat ini. Kepadaku malah diserahkan 4 anak menggantikan kehadiran ke-4 saudara/i ku yang telah pergi....justru setelah menikah dengan Maria Ansila tanpa kehadiran ayah dan ibu kandungku. Sejak 2003 yang lalu saya bekerja di SMAK Suria Atambua sebagai guru. Dan pada Agustus 2017 mendapat tugas baru di SMAN 2 Tasifeto Timur di Sadi, Kecamatan Tasifeto Timur, Belu.
Selasa, 19 Juli 2016
Tubi Lai
Tubi, sejenis roti terbuat dari tepung beras. Biasanya dibakar sehingga memiliki aroma khas, apalagi dibakar di atas tungku kayu api.
Namun hal-hal mendetail mengenai acara "tubi lai" saya tidak tahu dengan jelas. Saya akan berusaha mencari informasi lebih lengkap tentang acara yang satu ini.
Seingat saya, acara ini ada kaitannya dengan penghormatan bagi leluhur yang telah meninggal dunia. Tubi itu diletakkan di atas kuburan, lalu setelah doa dan ungkapan-ungkapan tertentu didaraskan, "tubi" bisa dimakan oleh anggota keluarga yang hadir.
Ketika saya berusia 4 tahun, di tempat kelahian saya di Fulur,Lamaknen, acara "tubi lai" dipadukan dengan misa meriah dirayakan di Hulul Tas,tempat kampung tradisional yang sudah lama tidak dihuni lagi.
Masih ingat baik, sebelum dikonsumsi oleh anggota keluarga yang ada, Pater Ernest Barth, SVD mereciki umat yang ikut perayaan ekaristi serta semua "tubi" yang dipersembahkan di atas kuburan keluarga dengan air berkat.
Apakah ini bernuansa inkulturatif?
Minggu, 28 Februari 2016
Molo Kaba
Molo adalah daun sirih, yang biasa dikunyah untuk memerahkan bibir. Daun sirih, kapur dan pinang dikunyah bersama.
Bagi yang belum biasa, awalnya mulut terasa pedis terlebih kalau daun sirih lebih banyak atau tidak sebanding dengan 2 pelengkap lainnya, pinang dan kapur.
Kalau kapur yang berlebihan akan membuat lidah luka. Perih juga.
Tapi kalau pinang lebih banyak membuat orang mabuk, hampir seperti ketika seseorang mabuk sopi (alkohol).
Demikianlah sirih-pinang-kapur mesti dikonsumsi dalam porsi yang seimbang sesuai kebiasaan, bukan takaran yang pasti dengan timbangan, dll.
Dalam keseharian, sirih menjadi bagian utuh dari perjumpaan, entah di jalan atau ketika bertamu di rumah. Biasanya, yang disuguhkan pertama kepada tamu adalah sirih.Sirih-pinang-kapur disebut dengan 1 nama saja SIRIH. Dalam Bunaq disebut MOLO, menjadi sajian awal ketika menanti minuman atau makanan disiapkan.
Namun, sirih juga digunakan untuk kepentingan lain. Misalnya saat "berdoa" atau memohon sesuatu dari leluhur. Molo ditempatkan di Opa (sejenis kotak anyaman menggunakan daun lontar) lalu disimpan di tempat tertentu sebagai undangan bagi leluhur. Selain disimpan di kuburan, juga kadang disimpan di kaki tiang agung di rumah adat. Kalau sedang berada di tempat yang jauh, bisa juga Molo diletakkan di kaki tiang tengah di rumah-rumah keluarga.
Sirih juga biasa digunakan untuk memberi kekuatan bagi anak-anak yang hendak bepergian jauh. Itu yang disebut Molo Kaba. Oprang yang tertua atau dituakan mengunyah sirih, lalu ampas sirih-pinang-kapur yang memerah itu dioles di dahi orang yang berkepentingan.
Selasa, 17 Mei 2011
Tulisan-tulisan Berikut
Dalam pekan-pekan mendatang ini beberapa tulisan singkat yang akan menyusul adalah:
1. Molo kaba
2. Tubi lai
3. An tama
4. Bosok
5. Pana gawa
1. Molo kaba
2. Tubi lai
3. An tama
4. Bosok
5. Pana gawa
Tiap Keluarga Punya 5 Anak?
Di negara kita Indonesia, pemerintah menganjurkan setiap keluarga WNI memiliki 2 anak. Aturan keluarga berencana (KB) yang dicanangkan selama ini perlu dipahami secara benar. Di lain pihak meneruskan keturunan dengan ber-anak cucu merupakan hak bagi orang dewasa yang telah menikah secara sah. Di sisi lain, meneruskan keturunan disertai tanggung jawab berat: membesarkan dan mendidik anak-anak yang merupakan buah cinta suami-istri itu mengantar mereka hingga menjadi orang yang mandiri, dewasa dan bahagia. Mengingat angka natalitas (kelahiran) yang sangat laju dan tinggi, berdampak pada kepadatan penduduk, maka himbauan pemerintah Indonesia itu perlu dipahami dan diterima dengan lapang dada.
Dulu ada anggapan bahwa memiliki banyak anak adalah rejeki.Banyak anak, banyak rejeki. Bertambahnya jumlah anak-anak yang dilahirkan dari rahim seorang ibu rumah tangga menjadi berlimpahnya rejeki sebetulnya merupakan pandangan yang mereduksi kehadiran anak-anak Tuhan itu hanya dari segi tenaga kerja semata. Luas hamparan sawah dan ladang, tak terhitung jumlah hewan ternak, akan menjadi lahan produktif bagi sebuah keluarga jika sang ayah akhirnya dapat dibantu oleh tenaga kerja gratis, anak-anaknya sendiri.
Mewariskan pola pikir ini dapat membuat umat manusia dewasa ini ke jaman masa lampau, nomaden-misalnya. Sebagai orang Buna' saya sangat tersinggung ketika seorang rekan saya berkomentar, "Orang Buna' tidak cocok dengan program KB-nya pemerintah Indonesia."
Baru kemudian hari saya sadar, bahwa bagi orang Buna' rupanya ada aturan main tersendiri yang mengatur soal jumlah anak dalam setiap keluarga batih. Saya tidak tahu persis apa alasannya dan latar belakang apa yang menjadi landasan, tapi tampaknya orang Buna' mengijinkan warganya memiliki anak sampai 5 orang. Ini terbukti dengan sapaan bagi anak-anak dengan nama tertentu bagi anak pertama sampai dengan anak kelima.
Apa' : anak pertama laki (jika anak pertamanya perempuan biasa disapa dengan nama manis "Eba" atau "Aiba". Sedangkan anak kedua: Pou, anak ketika: Uju, anak keempat: Uka, anak kelima: Gulo'. Untuk anak kedua sampai dengan anak kelima, sapaannya sama antara laki-laki dan perempuan, yakni Pou, Uju, Uka dan Golo'.
Hal ini masih menjadi kajian yang hingga tulisan diposting saya belum bisa memperoleh jawaban yang pasti. Namun demikianlah kenyataannya bahwa orang Buna' mempunyai sapaan khas bagi anak-anaknya hingga anak kelima.
Keluarga Berencana ala Pemerintah Indonesia menganjurkan "cukup 2 anak". KB-nya orang Buna' itu "cukup 5 anak"????
Dulu ada anggapan bahwa memiliki banyak anak adalah rejeki.Banyak anak, banyak rejeki. Bertambahnya jumlah anak-anak yang dilahirkan dari rahim seorang ibu rumah tangga menjadi berlimpahnya rejeki sebetulnya merupakan pandangan yang mereduksi kehadiran anak-anak Tuhan itu hanya dari segi tenaga kerja semata. Luas hamparan sawah dan ladang, tak terhitung jumlah hewan ternak, akan menjadi lahan produktif bagi sebuah keluarga jika sang ayah akhirnya dapat dibantu oleh tenaga kerja gratis, anak-anaknya sendiri.
Mewariskan pola pikir ini dapat membuat umat manusia dewasa ini ke jaman masa lampau, nomaden-misalnya. Sebagai orang Buna' saya sangat tersinggung ketika seorang rekan saya berkomentar, "Orang Buna' tidak cocok dengan program KB-nya pemerintah Indonesia."
Baru kemudian hari saya sadar, bahwa bagi orang Buna' rupanya ada aturan main tersendiri yang mengatur soal jumlah anak dalam setiap keluarga batih. Saya tidak tahu persis apa alasannya dan latar belakang apa yang menjadi landasan, tapi tampaknya orang Buna' mengijinkan warganya memiliki anak sampai 5 orang. Ini terbukti dengan sapaan bagi anak-anak dengan nama tertentu bagi anak pertama sampai dengan anak kelima.
Apa' : anak pertama laki (jika anak pertamanya perempuan biasa disapa dengan nama manis "Eba" atau "Aiba". Sedangkan anak kedua: Pou, anak ketika: Uju, anak keempat: Uka, anak kelima: Gulo'. Untuk anak kedua sampai dengan anak kelima, sapaannya sama antara laki-laki dan perempuan, yakni Pou, Uju, Uka dan Golo'.
Hal ini masih menjadi kajian yang hingga tulisan diposting saya belum bisa memperoleh jawaban yang pasti. Namun demikianlah kenyataannya bahwa orang Buna' mempunyai sapaan khas bagi anak-anaknya hingga anak kelima.
Keluarga Berencana ala Pemerintah Indonesia menganjurkan "cukup 2 anak". KB-nya orang Buna' itu "cukup 5 anak"????
Senin, 16 Mei 2011
Tir Rujuk
Musim menikmati suguhan lezat dari hasil tanam musim hujan 2011 sudah lewat. Hasil jagung muda, kacang-kacangan sudah berlalu sejak beberapa bulan lalu, kecuali hasil sawah di wilayah tertentu. Namun satu hal ini perlu menjadi bahan ceritera, yakni mengenai jenis kacang "turis" yang biasanya orang Belu tanam bersamaan dengan menanam jagung.
Kacang "turis" biasa disebut "tir" dalam Bahasa Buna'. Orang Buna' memiliki kebiasaan khusus ketika memanen hasil kacang "tir". Buahnya agak bulat seperti jagung, ukurannya hampir sama besar. Warnanya agak ungu waktu masih mudah, tapi kalau sudah agak tua dan kering warnanya berubah menjadi hitam.
Biasanya direbus bersama dengan jagung, bisa juga dengan nasi, sehingga warna masakan agak ungu kebiru-biruan. Bagi sebagian orang, kacang turis atau "tir" ini dicampur dengan beras saat menanak nasi. Bisa juga menjadi lauk pelengkap pada jagung rebut. Kacang "tir" yang masih muda dapat direbus bersamaan dengan nasi, tapi kalau kacangnya sudah tua berwarna hitam pekat, kacang mesti direbus duluan sampai setengah matang baru mengisi beras pada air yang sedang mendidih itu.
Terus terang bagi mereka yang tidak biasa, kacang "tir" ini sering membuat perut kembung. Apalagi bagi anak-anak kecil "tir" agak riskan.
Untuk menghindari gangguan perut, orang Buna' punya tata cara tersendiri. Sebelum menyantap nasi yang campur kacang "tir", sang ayah atau si ibu mengambil sebutir "tir" lalu menghancurkannya dengan jari-jemari lalu mengoleskannya pada dahi, dada dan perut. Anehnya hal ini lebih banyak dibuat pada anak-anak saja.
Menurut versi tertentu, cara ini dibuat agar anak-anak yang menyantap panenan tahun itu terhindar dari gangguan penyakit yang bisa saja menyerang lambung atau usus (perut). Versi lain menjelaskan, kebiasaan itu dari segi kepercayaan (agama) sebagai tanda syukur atas panenan tahun itu.
Jika versi kedua itu yang diikuti, maka keluarga-keluarga orang Buna' menjadi sangat religius, karena tahu bersyukur atas hasil panen. Jagung dan padi biasanya dibawa ke tempat tertentu yang ditentukan di tengah lahan garapan. Di tempat itulah contoh panenan tahun diletakkan. Para petani memanen padi dan/atau jagung yang tampak berisi baik, subur. Sedangkan "tir" dihargai dengan ritus lain yang biasa dibuat di tempat makan dan pada saat suguhan perdana dari hasil panen tahun itu.Acara yang satu inilah yang disebut "tir rujuk".
Kacang "turis" biasa disebut "tir" dalam Bahasa Buna'. Orang Buna' memiliki kebiasaan khusus ketika memanen hasil kacang "tir". Buahnya agak bulat seperti jagung, ukurannya hampir sama besar. Warnanya agak ungu waktu masih mudah, tapi kalau sudah agak tua dan kering warnanya berubah menjadi hitam.
Biasanya direbus bersama dengan jagung, bisa juga dengan nasi, sehingga warna masakan agak ungu kebiru-biruan. Bagi sebagian orang, kacang turis atau "tir" ini dicampur dengan beras saat menanak nasi. Bisa juga menjadi lauk pelengkap pada jagung rebut. Kacang "tir" yang masih muda dapat direbus bersamaan dengan nasi, tapi kalau kacangnya sudah tua berwarna hitam pekat, kacang mesti direbus duluan sampai setengah matang baru mengisi beras pada air yang sedang mendidih itu.
Terus terang bagi mereka yang tidak biasa, kacang "tir" ini sering membuat perut kembung. Apalagi bagi anak-anak kecil "tir" agak riskan.
Untuk menghindari gangguan perut, orang Buna' punya tata cara tersendiri. Sebelum menyantap nasi yang campur kacang "tir", sang ayah atau si ibu mengambil sebutir "tir" lalu menghancurkannya dengan jari-jemari lalu mengoleskannya pada dahi, dada dan perut. Anehnya hal ini lebih banyak dibuat pada anak-anak saja.
Menurut versi tertentu, cara ini dibuat agar anak-anak yang menyantap panenan tahun itu terhindar dari gangguan penyakit yang bisa saja menyerang lambung atau usus (perut). Versi lain menjelaskan, kebiasaan itu dari segi kepercayaan (agama) sebagai tanda syukur atas panenan tahun itu.
Jika versi kedua itu yang diikuti, maka keluarga-keluarga orang Buna' menjadi sangat religius, karena tahu bersyukur atas hasil panen. Jagung dan padi biasanya dibawa ke tempat tertentu yang ditentukan di tengah lahan garapan. Di tempat itulah contoh panenan tahun diletakkan. Para petani memanen padi dan/atau jagung yang tampak berisi baik, subur. Sedangkan "tir" dihargai dengan ritus lain yang biasa dibuat di tempat makan dan pada saat suguhan perdana dari hasil panen tahun itu.Acara yang satu inilah yang disebut "tir rujuk".
Kamis, 07 April 2011
Sebuah Kecemasan
Ketika seorang sesepuh dari kalangan orang Buna' menyusun sebuah kamus mini Bahasa Indonesia-Buna' pada April 2009 silam, banyak tanggapan yang muncul. Ada yang senang, bangga karena sebuah bahasa daerah yang digunakan di Kecamatan Lamaknen, Lamaknen Selatan, di Aitoun, Kecamatan Raihat, di Kota Atambua dan sekitarnya, dan beberapa tempat lain seperti di Welaus, Webora, Belu, Timor, NTT dan beberapa tempat di Timor Leste yang berbatasan dengan Kabupaten Belu akhirnya didokumentasikan dengan dalam sebuah kamus. Jarang ditemukan kamus bahasa daerah di wilayah ini. Tetapi yang lainnya malah merasa geli, lucu, sebab bahasa itu semakin jarang digunakan apalagi di tempat umum hampir tidak pernah didengar lagi.
Bagi saya sendiri, hasil karya mengumpulkan kosa kata dan menterjemahkannya dalam Bahasa Indonesia merupakan pekerjaan berat yang sulit dibuat. Syukurlah seorang Drs. Anton Bele, M.Si yang sebetulnya seorang katekis atau guru agama Katolik itu mau mulai usaha ini. Ia merintis upaya pewarisan budaya ketika banyak orang menganggapnya tidak terlalu berguna, bahkan mungkin tidak pernah terpikirkan sama sekali.
Beberapa tahun lalu saya sempat bertemu seorang asing asal Australia, yang katanya sedang membuat penelitian di wilayah Lamaknen. Sapaan saya dalam Bahasa Indonesia dijawabnya dalam Bahasa Buna'. Saya kaget bukan main, Antonie ternyata bukan baru mau belajar bahasa daerah asal saya. Dia sudah sangat lancar berbahasa Buna'.
Saya agak malu, ketika beberapa kalimat Bahasa Indonesia tidak dibalas dengan Bahasa Indonesia. Padahal kami sendiri suka campur aduk kosa kata, ketika berbicara dalam Bahasa Buna' hampir tidak ada kalimat yang disisip dengan satu-dua kata Bahasa Indonesia. Apalagi jika berceritera di antara banyak orang. Bahasa Buna' hanya digunakan bila ada yang sangat rahasia. Itupun hanya satu-dua kata atau frase.
Ada rasa malu, minder, seolah Bahasa Buna' itu bahasanya orang kelas bawah, yang digunakan hanya untuk berbisik-bisik. Saya juga akhirnya teringat, belasan tahun yang lalu ketika kami masih duduk di bangku SMP pernah beredar buku Libur Por. Sebuah buku berwarna merah itu adalah terjemahan Kitab Suci Perjanjian Baru. Saya pernah membacanya, namun banyak sekali kosa kata yang baru bagi saya. Saya akhirnya merasa asing dengan buku itu.
Salah satu orang yang saya kagumi saat itu adalah Pastor Paroki Nualain, Pater Vincent Wun, SVD. Imam yang satu ini semasa kecilnya berada di lingkungan orang Dawan di Niki-Niki, Timor Tengah Selatan. Tapi dalam perayaan ekaristi suci, beliau biasa membaca Injil dalam Bahasa Buna'. Setahu saya kebiasaan itu terhenti saat sang gembala umat yang sederhana itu mutasi ke tempat tugas lain.
Belum lama ini saya bertemu dengan seorang tokoh pemuda asal Kewar, Lamaknen yang kini menetap di Atambua. Dia dengan polos mengungkapkan kecemasannya, karena setiap perjumpaan dengan orang Buna' yang dikenalnya jarang menggunakan bahasa daerah lagi. Kalau toh mencoba menyapa seseorang dengan Bahasa Buna' tanggapannya pasti selalu dalam Bahasa Indonesia.
Anak-anak yang lahir dari pasangan suami istri orang Buna' yang kini di Atambua dan sekitarnya malah tidak tahu apa-apa. Mungkin kosa kata Bahasa Buna' yang dikenal tidak lebih dari puluhan kata.Nah, kalau seperti ini bukan tidak mungkin suatu saat Bahasa Buna' hanya ada dalam memori, kenangan tempo dulu, bahwa nenek moyang kami pernah menggunakan Bahasa Buna'. Bahasa itu bukan lagi bahasa anak-cucu kami. Mengapa? Karena kami sendiri tidak melestarikannya.
Bagi saya sendiri, hasil karya mengumpulkan kosa kata dan menterjemahkannya dalam Bahasa Indonesia merupakan pekerjaan berat yang sulit dibuat. Syukurlah seorang Drs. Anton Bele, M.Si yang sebetulnya seorang katekis atau guru agama Katolik itu mau mulai usaha ini. Ia merintis upaya pewarisan budaya ketika banyak orang menganggapnya tidak terlalu berguna, bahkan mungkin tidak pernah terpikirkan sama sekali.
Beberapa tahun lalu saya sempat bertemu seorang asing asal Australia, yang katanya sedang membuat penelitian di wilayah Lamaknen. Sapaan saya dalam Bahasa Indonesia dijawabnya dalam Bahasa Buna'. Saya kaget bukan main, Antonie ternyata bukan baru mau belajar bahasa daerah asal saya. Dia sudah sangat lancar berbahasa Buna'.
Saya agak malu, ketika beberapa kalimat Bahasa Indonesia tidak dibalas dengan Bahasa Indonesia. Padahal kami sendiri suka campur aduk kosa kata, ketika berbicara dalam Bahasa Buna' hampir tidak ada kalimat yang disisip dengan satu-dua kata Bahasa Indonesia. Apalagi jika berceritera di antara banyak orang. Bahasa Buna' hanya digunakan bila ada yang sangat rahasia. Itupun hanya satu-dua kata atau frase.
Ada rasa malu, minder, seolah Bahasa Buna' itu bahasanya orang kelas bawah, yang digunakan hanya untuk berbisik-bisik. Saya juga akhirnya teringat, belasan tahun yang lalu ketika kami masih duduk di bangku SMP pernah beredar buku Libur Por. Sebuah buku berwarna merah itu adalah terjemahan Kitab Suci Perjanjian Baru. Saya pernah membacanya, namun banyak sekali kosa kata yang baru bagi saya. Saya akhirnya merasa asing dengan buku itu.
Salah satu orang yang saya kagumi saat itu adalah Pastor Paroki Nualain, Pater Vincent Wun, SVD. Imam yang satu ini semasa kecilnya berada di lingkungan orang Dawan di Niki-Niki, Timor Tengah Selatan. Tapi dalam perayaan ekaristi suci, beliau biasa membaca Injil dalam Bahasa Buna'. Setahu saya kebiasaan itu terhenti saat sang gembala umat yang sederhana itu mutasi ke tempat tugas lain.
Belum lama ini saya bertemu dengan seorang tokoh pemuda asal Kewar, Lamaknen yang kini menetap di Atambua. Dia dengan polos mengungkapkan kecemasannya, karena setiap perjumpaan dengan orang Buna' yang dikenalnya jarang menggunakan bahasa daerah lagi. Kalau toh mencoba menyapa seseorang dengan Bahasa Buna' tanggapannya pasti selalu dalam Bahasa Indonesia.
Anak-anak yang lahir dari pasangan suami istri orang Buna' yang kini di Atambua dan sekitarnya malah tidak tahu apa-apa. Mungkin kosa kata Bahasa Buna' yang dikenal tidak lebih dari puluhan kata.Nah, kalau seperti ini bukan tidak mungkin suatu saat Bahasa Buna' hanya ada dalam memori, kenangan tempo dulu, bahwa nenek moyang kami pernah menggunakan Bahasa Buna'. Bahasa itu bukan lagi bahasa anak-cucu kami. Mengapa? Karena kami sendiri tidak melestarikannya.
Kamis, 14 Oktober 2010
Robon
Kata "Robon" atau yang lazim diucap "dobon" ini arti denotasinya adalah menggantung diri. Misalnya seorang anak kecil memanjat pohon, lalu menggantung diri. Namun dalam pergaulan setiap hari kata ini sering digunakan dalam pengertian lain. Secara konotatif, kata "robon" atau "dobon" digunakan dengan arti lain "sanksi adat". Neto gege robon ta' artinya saya masih menuntut pertanggungjawabannya atas kekilafan tertentu. Atau saya menanti sanksi adat yang harus dia tanggung dalam relasinya dengan saya.
Tujuannya sangat positif, karena dengan demikian, siapapun diajak untuk senantiasa menjaga kata-frase-kalimat yang menyinggung perasaan apalagi melukai hati orang lain. Orang harus bersikap dan bertingkah laku yang layak dan sopan.
Sebagai ketentuan hukum yang tidak tertulis, "robon" tidak didasarkan uraian rinci yang dapat menjawab segala macam kemungkinan. Melainkan hanya mengikuti kebiasaan yang lazim di wilayah tertentu. Sanksi biasanya agak ringan, misalnya harus menyiapkan sopi 1 botol yang dihidangkan saat makan bersama.
Orang Buna' yang tersinggung dan "robon" biasanya mengungkapkan kekesalannya terhadap orang atau pihak tertentu saat makan bersama pada salah satu moment. Misalnya saat ada anggota keluarga yang meninggal dunia. Dalam ceritera ketika makan bersama, yang biasanya selalu dengan hidangan minuman beralkohol, orang yang "robon" mulai curhat menyatakan kesal atas kekilafan orang tertentu.
Kisah kejadian dirunut berdasarkan tempat ataupun secara kronologis. Yang bersalah diminta mendengarkan dengan setia. Kadang ada protes, pembenaran diri, namun biasanya yang lebih muda mengalah. Dengan rasa hormat dan penghargaan tinggi kepada yang berusia lebih dewasa, orang yang tutur kata atau sikap dan atau tingkah lakunya dipersoalkan, siap membayar upah salahnya.
Tentunya tujuan akhirnya satu yakni kebersamaan, persaudaraan, kekeluargaan, hormat-menghormati, damai dan cinta. Yah.... yang salah perlu berubah. Kepadanya diberi waktu menata diri, tanpa harus dikucilkan.... Semua itu demi ....... bonum comunae.....
Senin, 03 Mei 2010
Terjemahan Terbalik
Istri dan anak sulung saya, Ricky, tertawa terbahak-bahak ketika mendengar putra kedua saya, Charly, berapi-api ceritera bangga bahwa ia pernah melihat “api kereta” padahal yang dimaksud “kereta api”. Sangat masuk akal jika seorang anak tanpa pengalaman sedikit pun tentang apa itu kereta api, selain hanya pernah menonton di televisi salah menyebut benda yang agak asing baginya. Dan memang juga karena anak usia balita masih sulit mengkomunikasikan banyak hal dan kata-kata secara tepat, maka salah ucap susunan frase demikian mesti dianggap lumrah.
Namun sebetulnya istri dan si sulung terbahak-bahak, karena punya pengalaman bahwa kadang orang Buna’ memang suka membolak-balikan kata-kata atau sususan kata-kata dalam kalimat, jika belum fasih benar dalam menggunakan Bahasa Indonesia.
Saya akhirnya sadar bahwa terkadang saya juga digoda perasaan malu dan was-was, jika ada orang Buna’ mendapat kesempatan bicara di depan umum. Karena ada kecendrungan membahasakan gagasannya secara terbalik, jika dibandingkan dengan susunan kalimat yang baku dalam Bahasa Indonesia.
Misalnya: Saya akan pergi ke Atambua (Bahasa Indonesia) akan diterjemahkan dengan kalimat dalam Bahasa Buna’: Neto Atambua mal gie. Sebuah terjemahan yang bakal menyulitkan orang yang baru belajar berbahasa Buna’. Sebab kalimat dalam Bahasa Buna’ di atas jika diterjemahkan persis sesuai urutan kata-kata tersebut menjadi Saya Atambua pergi akan. Sebuah rangkaian kata dengan makna yang tidak jelas.
Agar lebih jelas saya coba memberi contoh lain:
Michael menunggang kuda : Michael kura sa’e (S+O+P)
Kami makan ikan : Nei ikan gia (S+O+P)
Kuda makan rumput : Kura u a (S+O+P)
Kita makan nasi : I a a (S+O+P)
Jadi umumnya kalimat yang berpredikat kata kerja menuruti pola kalimat subyek + obyek + predikat
Berbeda dengan kalimat-kalimat berikut:
Mereka hidup baik-baik : Hala’i u loi-loi (S+P+Ket)
Suaranya merdu sekali : Giol koen porsa (S+P)
Kepalanya besar : Gubul masak (S+P)
Rambut panjang : Aru’ legul (S+P)
Kita hidup : I u (S+P)
Lain lagi dengan kalimat-kalimat berikut ini:
Dia tidur di sana : Ba’i otagene cier (S+Ket Tempat+P)
Dia datang besok : Ba’i leigie na man (S+Ket Waktu+P)
Engkau duduk di sini : Eto bareno mit (S+Ket Tempat+P)
Kosa Kata:
kura : kuda
sa’e : tunggang
nei : kami
ikan : ikan
gia : makan
u : hidup (ket), rumput (KB)
a : makan (KK), nasi (KB)
i : gigit (menggigitmu, KK sekaligus obyek pelaku II tunggal), kita
hala’i : mereka
loi-loi : baik-baik
giol : suara (suaranya, suara seseorang=pelaku III tunggal)
koen porsa : merdu sekali
gubul : kepalanya (milik pelaku III tunggal)
masak : besar
aru’ : rambut
legul : panjang
ba’i : dia (pelaku III tunggal)
otagene : di sana
cier : tidur
leigie : besok
na : partikel tambahan untuk keterangan waktu leigie (besok)
man : datang
eto : engkau (pelaku II tunggal)
bareno : di sini
mit : duduk
Namun sebetulnya istri dan si sulung terbahak-bahak, karena punya pengalaman bahwa kadang orang Buna’ memang suka membolak-balikan kata-kata atau sususan kata-kata dalam kalimat, jika belum fasih benar dalam menggunakan Bahasa Indonesia.
Saya akhirnya sadar bahwa terkadang saya juga digoda perasaan malu dan was-was, jika ada orang Buna’ mendapat kesempatan bicara di depan umum. Karena ada kecendrungan membahasakan gagasannya secara terbalik, jika dibandingkan dengan susunan kalimat yang baku dalam Bahasa Indonesia.
Misalnya: Saya akan pergi ke Atambua (Bahasa Indonesia) akan diterjemahkan dengan kalimat dalam Bahasa Buna’: Neto Atambua mal gie. Sebuah terjemahan yang bakal menyulitkan orang yang baru belajar berbahasa Buna’. Sebab kalimat dalam Bahasa Buna’ di atas jika diterjemahkan persis sesuai urutan kata-kata tersebut menjadi Saya Atambua pergi akan. Sebuah rangkaian kata dengan makna yang tidak jelas.
Agar lebih jelas saya coba memberi contoh lain:
Michael menunggang kuda : Michael kura sa’e (S+O+P)
Kami makan ikan : Nei ikan gia (S+O+P)
Kuda makan rumput : Kura u a (S+O+P)
Kita makan nasi : I a a (S+O+P)
Jadi umumnya kalimat yang berpredikat kata kerja menuruti pola kalimat subyek + obyek + predikat
Berbeda dengan kalimat-kalimat berikut:
Mereka hidup baik-baik : Hala’i u loi-loi (S+P+Ket)
Suaranya merdu sekali : Giol koen porsa (S+P)
Kepalanya besar : Gubul masak (S+P)
Rambut panjang : Aru’ legul (S+P)
Kita hidup : I u (S+P)
Lain lagi dengan kalimat-kalimat berikut ini:
Dia tidur di sana : Ba’i otagene cier (S+Ket Tempat+P)
Dia datang besok : Ba’i leigie na man (S+Ket Waktu+P)
Engkau duduk di sini : Eto bareno mit (S+Ket Tempat+P)
Kosa Kata:
kura : kuda
sa’e : tunggang
nei : kami
ikan : ikan
gia : makan
u : hidup (ket), rumput (KB)
a : makan (KK), nasi (KB)
i : gigit (menggigitmu, KK sekaligus obyek pelaku II tunggal), kita
hala’i : mereka
loi-loi : baik-baik
giol : suara (suaranya, suara seseorang=pelaku III tunggal)
koen porsa : merdu sekali
gubul : kepalanya (milik pelaku III tunggal)
masak : besar
aru’ : rambut
legul : panjang
ba’i : dia (pelaku III tunggal)
otagene : di sana
cier : tidur
leigie : besok
na : partikel tambahan untuk keterangan waktu leigie (besok)
man : datang
eto : engkau (pelaku II tunggal)
bareno : di sini
mit : duduk
Selasa, 27 April 2010
Holon Tama
Holon berarti "menangis", bisa juga sebagai kata benda "tangisan" atau "ratapan". Tama artinya "masuk", bisa juga digunakan untuk pergi ke suatu tempat, rumah atau memasuki sebuah kampung.
Holon Tama yang dimaksud adalah rapatan pada saat anggota keluarga tertentu meninggal dunia. Biasanya saat melayat jenasah, orang Bunaq, terlebih kaum wanita pergi dalam kelompok-kelompok kecil. Di rumah duka, sambil mengelilingi jenasah, para wanita itu menangis meraung-raung sambil mengisahkan riwayat hidup anggota keluarga yang meninggal dunia itu. Tentunya hanya sejauh yang mereka ingat.
Yang unik bagi orang dari daerah lain, yaitu rapatan mereka seperti sebuah koor. Salah satu dari antara mereka menjadi solo tunggal. Dia membawakan Holon Bul, lalu dijawab serempak oleh pelayat lainnya yang disebut Holon Zewen.
Syair dalam Holon Bul biasanya mengisahkan kebaikan hati, perhatian dan cintanya bagi anggota keluarga yang ditinggalkan, termasuk juga tentang relasinya dengan masyarakat umumnya. Kadang kariernya, pekerjaan pokoknya diuraikan secara umum dalam syair lagu ratapan itu. Ciri-cirinya yang menonjol tidak dilupakan, seperti gaya berceritera, gaya jalan, atau tingkah laku menjadi ciri khasnya, senyumannya, dan lain-lain. Kalau yang meninggal itu masih anak-anak atau remaja, maka nama-nama teman bermainnya biasa disebut juga. Dan, mereka juga mengungkapkan harapan dan impian yang belum terwujud, cita-cita dan rencana layu sebelum berkembang.
Bagi yang tidak mengerti arti syair yang dikumandangkan dalam Bahasa Bunaq, tentu merasa lucu, dan ganjil. Tapi mereka yang mengerti, makna syair-syair yang diucapkan sambil meratap itu sangat menyayat hati.
Inilah salah satu bentuk perpisahan, ungkapan selamat jalan bagi sang arwah. Salam pisah yang didengungkan secara puitis sambil isak tangis pilu.
Holon Tama yang dimaksud adalah rapatan pada saat anggota keluarga tertentu meninggal dunia. Biasanya saat melayat jenasah, orang Bunaq, terlebih kaum wanita pergi dalam kelompok-kelompok kecil. Di rumah duka, sambil mengelilingi jenasah, para wanita itu menangis meraung-raung sambil mengisahkan riwayat hidup anggota keluarga yang meninggal dunia itu. Tentunya hanya sejauh yang mereka ingat.
Yang unik bagi orang dari daerah lain, yaitu rapatan mereka seperti sebuah koor. Salah satu dari antara mereka menjadi solo tunggal. Dia membawakan Holon Bul, lalu dijawab serempak oleh pelayat lainnya yang disebut Holon Zewen.
Syair dalam Holon Bul biasanya mengisahkan kebaikan hati, perhatian dan cintanya bagi anggota keluarga yang ditinggalkan, termasuk juga tentang relasinya dengan masyarakat umumnya. Kadang kariernya, pekerjaan pokoknya diuraikan secara umum dalam syair lagu ratapan itu. Ciri-cirinya yang menonjol tidak dilupakan, seperti gaya berceritera, gaya jalan, atau tingkah laku menjadi ciri khasnya, senyumannya, dan lain-lain. Kalau yang meninggal itu masih anak-anak atau remaja, maka nama-nama teman bermainnya biasa disebut juga. Dan, mereka juga mengungkapkan harapan dan impian yang belum terwujud, cita-cita dan rencana layu sebelum berkembang.
Bagi yang tidak mengerti arti syair yang dikumandangkan dalam Bahasa Bunaq, tentu merasa lucu, dan ganjil. Tapi mereka yang mengerti, makna syair-syair yang diucapkan sambil meratap itu sangat menyayat hati.
Inilah salah satu bentuk perpisahan, ungkapan selamat jalan bagi sang arwah. Salam pisah yang didengungkan secara puitis sambil isak tangis pilu.
Bahasa Yang Unik
Bahasa Bunaq sering ditulis Buna'. Bahasa yang satu ini memiliki keunikan tersendiri. Karena semua huruf vokal dalam Bahasa Indonesia ternyata memiliki arti tersendiri. Huruf "A" berarti "makan" (kata kerja), dapat juga berarti "nasi" (kata benda). "A a" artinya "makan nasi". "A a gie" artinya: (mau makan nasi).
Sedangkan "i" berarti menggigit engkau. Dengan mengucapkan sebuah huruf "i" saja orang Bunaq atau yang sering disebut juga orang Marae ini sudah mengungkapkan satu kalimat pendek "menggigit engkau". Misalnya: "zi i, ka?" Jika diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, kalimat itu berarti "ular gigit engkau, ka?" atau "i gie, ka?" (mau gigit engkau, ka?).
Huruf "u" berarti rumput (kata benda), hidup (kata kerja). Jadi "u u" artinya rumput hidup. "Hotel u bais oa" (hotel=pohon, u=hidup, bais=banyak, oa=sudah". Jika diterjemahkan menjadi "sudah banyak pohon (yang) hidup". Ingat, bukan "pohon hidup banyak sudah". "u a" artinya makan rumput".
Huruf "e" berarti "garam". "E a" artinya "makan garam". "I e a" artinya "kita makan garam". "Neto e a" = saya makan garam.
Huruf "O" berarti "udang" (kata benda), "darahmu". Jadi kalau orang Bunaq mengatakan "O u" berarti "udang hidup". Atau "O sai bais" artinya "darahmu keluar banyak". Tapi bisa juga berarti "udang keluar banyak" tergantung dari konteks pembicaraan.
"I u e a" berarti kita yang hidup makan garam.
Sedangkan "i" berarti menggigit engkau. Dengan mengucapkan sebuah huruf "i" saja orang Bunaq atau yang sering disebut juga orang Marae ini sudah mengungkapkan satu kalimat pendek "menggigit engkau". Misalnya: "zi i, ka?" Jika diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, kalimat itu berarti "ular gigit engkau, ka?" atau "i gie, ka?" (mau gigit engkau, ka?).
Huruf "u" berarti rumput (kata benda), hidup (kata kerja). Jadi "u u" artinya rumput hidup. "Hotel u bais oa" (hotel=pohon, u=hidup, bais=banyak, oa=sudah". Jika diterjemahkan menjadi "sudah banyak pohon (yang) hidup". Ingat, bukan "pohon hidup banyak sudah". "u a" artinya makan rumput".
Huruf "e" berarti "garam". "E a" artinya "makan garam". "I e a" artinya "kita makan garam". "Neto e a" = saya makan garam.
Huruf "O" berarti "udang" (kata benda), "darahmu". Jadi kalau orang Bunaq mengatakan "O u" berarti "udang hidup". Atau "O sai bais" artinya "darahmu keluar banyak". Tapi bisa juga berarti "udang keluar banyak" tergantung dari konteks pembicaraan.
"I u e a" berarti kita yang hidup makan garam.
Suku Bunaq di Belu
Suku Bunaq merupakan salah satu suku kecil yang menetap di Kecamatan Lamaknen, Kabupaten Belu di Pulau Timor, Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Indonesia. Wilayah Lamaknen berbatasan langsung dengan bekas Propinsi Timor-TIMUR (Tim-tim) kala masih merupakan bagian integral dari negara kesatuan Indonesia. Namun hasil jajak pendapat 1999 silam, sejumlah besar warga itu memilih untuk berpisah dari Indonesia, dan kini telah menjadi sebuah negara baru tetangga Indonesia, yakni Timor Leste. Suku Bunaq dengan bahasa Bunaq atau sering disebut Marae ini tersebar juga di beberapa daerah lain seperti di wilayah Kecamatan Raihat di Desa Aitoun, juga wilayah Kecamatan Kobalima, di bagian selatan wilayah Belu. Sedangkan lainnya berada di wilayah barat Timor Leste, yakni wilayah yang berbatasan dengan Kecamatan Lamaknen. Baik dari segi bahasa harian maupun dalam kebiasaan adat setempat, orang Bunaq memiliki banyak keunikan yang membedakan mereka dari suku-suku lain di Belu. Dalam hal bahasa, misalnya, struktur kalimat sangat khas dengan susunan atau pola kalimat yang terbalik dibandingkan dengan pola kalimat Bahasa Indonesia. Dan sejumlah informasi menarik lainnya akan ditampilkan di web ini. Menyadari keterbatasan dalam menyediakan kisah-kisah unik tentang suku ini, dengan rendah hati kami menghimbau dan mengajak pembaca budiman yang memiliki sumber informasi tentang Suku Bunaq-Lamaknen agar turut berperan serta dalam kisah unik dari udik Bunaq.
Sekedar tambahan informasi, blog ini baru dimulai pada Sabtu, 07 Desember 2007 di Atambua, Belu, Pulau Timor, NTT. Dari segala keterbatasan inilah kita sama berpijak, tetapi lebih banyak menoleh ke masa lalu orang Bunaq dan merefleksikan suka-duka hidup saat ini kiranya dapat menentukan masa depan Bunaq yang diharapkan bersama.
Sekedar tambahan informasi, blog ini baru dimulai pada Sabtu, 07 Desember 2007 di Atambua, Belu, Pulau Timor, NTT. Dari segala keterbatasan inilah kita sama berpijak, tetapi lebih banyak menoleh ke masa lalu orang Bunaq dan merefleksikan suka-duka hidup saat ini kiranya dapat menentukan masa depan Bunaq yang diharapkan bersama.
Langganan:
Postingan (Atom)
Pengikut
Arsip Blog
-
▼
2016
(2)
- ▼ 07/17 - 07/24 (1)
- ► 02/28 - 03/06 (1)
-
►
2011
(4)
- ► 05/15 - 05/22 (3)
- ► 04/03 - 04/10 (1)
-
►
2010
(5)
- ► 10/10 - 10/17 (1)
- ► 05/02 - 05/09 (1)
- ► 04/25 - 05/02 (3)

